55tv.co.id – Di tengah kompleksitas geografis dan tantangan akses layanan diagnostik di berbagai pelosok negeri, industri alat kesehatan Indonesia kini mendapat angin segar. Kolaborasi antara investasi global dan kemampuan manufaktur lokal digadang-gadang menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Sebuah langkah strategis yang tidak hanya menjanjikan inovasi tetapi juga kemandirian produksi di dalam negeri.

Related Post
Johnson Zhang selaku Founder dan Global CEO Virtue Diagnostics, menyoroti kondisi unik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan populasi besar, namun masih menghadapi keterbatasan akses diagnostik. Menurutnya, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar canggih, melainkan juga harus mampu diproduksi secara lokal agar lebih relevan dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Merespons kebutuhan krusial ini, Virtue Diagnostics Indonesia menegaskan komitmennya untuk secara aktif memperkuat ekosistem manufaktur In Vitro Diagnostics (IVD) di tanah air. Keputusan besar untuk berinvestasi di Indonesia didasari oleh keyakinan mendalam bahwa setiap warga negara berhak menikmati akses layanan diagnostik berkualitas tanpa terkecuali. "Kami memilih untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia, bukan sekadar menjual produk impor," tegas Zhang, menggambarkan filosofi perusahaannya.
Sebagai bukti nyata komitmen tersebut, Virtue Diagnostics telah merampungkan pembangunan fasilitas manufaktur modern seluas 12.200 meter persegi di Cikarang. Pabrik megah ini, yang diresmikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin pada tahun 2024, memiliki kapasitas produksi impresif. Setiap tahun, lebih dari 1.000 unit instrumen diagnostik siap diproduksi, didukung oleh kemampuan produksi reagen hingga 6.000 liter setiap harinya. Ini menandai babak baru bagi kemandirian industri alat kesehatan nasional.










Tinggalkan komentar