55 NEWS – Kenaikan tarif impor baja dan aluminium oleh Amerika Serikat (AS) menjadi 50% di akhir Mei 2025, yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump, memicu reaksi dari berbagai negara. PT Krakatau Steel (Persero) (KRAS) merespons kebijakan proteksionis ini dengan strategi diversifikasi pasar, membidik kawasan ASEAN, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.

Related Post
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyatakan optimisme perusahaannya dalam menghadapi tantangan ini. "Kami fokus mengembangkan produk baja bernilai tambah tinggi, meningkatkan produksi domestik dengan mengembangkan industri hilir baja-aluminium, serta inovasi produk seperti baja khusus untuk otomotif dan konstruksi berkelanjutan," ujarnya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan membuka peluang di segmen pasar premium yang lebih stabil.

Peningkatan efisiensi produksi melalui adopsi teknologi industri 4.0 dan proses manufaktur ramah lingkungan juga menjadi prioritas. Hal ini bertujuan untuk menekan biaya produksi sambil menjaga kualitas produk dan mengurangi dampak lingkungan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menekankan peran strategis Krakatau Steel dalam memperkuat industri baja nasional. Peningkatan kapasitas produksi dan inovasi produk akan memperkuat rantai pasok domestik dan membuka peluang ekspansi pasar regional.
Pemerintah Indonesia juga aktif mendorong kebijakan perdagangan proaktif melalui kerja sama regional seperti ASEAN dan perjanjian perdagangan bebas (FTA). Dukungan insentif untuk peningkatan teknologi dan hilirisasi industri baja di dalam negeri menjadi bagian dari upaya memperkuat industri nasional. Pemerintah dan Krakatau Steel terus memantau kebijakan perdagangan global dan respons negara-negara mitra dagang AS untuk merespons perubahan dinamika pasar secara cepat dan strategis.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar