Analisis Eksklusif: Duel Harga BBM Subsidi RI vs Malaysia! Terungkap, Negara Mana yang Paling Gigih Lindungi Dompet Rakyat di Tengah Gejolak Energi Global?

Analisis Eksklusif: Duel Harga BBM Subsidi RI vs Malaysia! Terungkap, Negara Mana yang Paling Gigih Lindungi Dompet Rakyat di Tengah Gejolak Energi Global?

55 NEWS – Jakarta – Di tengah pusaran gejolak harga energi global yang tak kunjung mereda, perbandingan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) antara Indonesia dan Malaysia kembali mencuat ke permukaan. Pertanyaan fundamental yang menggelitik para ekonom dan masyarakat luas adalah: negara mana yang paling efektif dalam menopang daya beli warganya melalui skema harga BBM bersubsidi? Sebuah investigasi mendalam oleh 55tv.co.id menyoroti bagaimana Indonesia secara konsisten mempertahankan stabilitas harga BBM bersubsidi, bahkan saat tekanan pasar global meningkat tajam.

COLLABMEDIANET

Sejak pertengahan Juni 2026, pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen kuatnya dengan mempertahankan harga Pertalite pada level Rp10.000 per liter dan Biosolar di angka Rp6.800 per liter. Kebijakan strategis ini merupakan tameng vital untuk melindungi masyarakat dari potensi lonjakan inflasi yang kerap dipicu oleh fluktuasi harga komoditas energi dunia. Langkah ini diambil di tengah tren kenaikan harga energi global, dan menariknya, dilakukan bersamaan dengan penyesuaian harga pada produk BBM nonsubsidi oleh Pertamina.

Analisis Eksklusif: Duel Harga BBM Subsidi RI vs Malaysia! Terungkap, Negara Mana yang Paling Gigih Lindungi Dompet Rakyat di Tengah Gejolak Energi Global?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Di seberang Selat Malaka, Malaysia juga menerapkan program subsidi BBM, namun dengan karakteristik yang berbeda. Berdasarkan penetapan harga terbaru untuk periode 11-17 Juni 2026, bensin RON95 yang disubsidi melalui program BUDI95 dipatok sebesar RM1,99 per liter. Sementara itu, harga solar bersubsidi di wilayah Semenanjung Malaysia berada di kisaran RM2,15 per liter.

Apabila dikonversikan ke mata uang Rupiah (dengan asumsi kurs sekitar Rp3.500 per Ringgit Malaysia), harga RON95 Malaysia berkisar Rp6.965 per liter dan solar sekitar Rp7.525 per liter. Sekilas, angka ini mungkin terlihat lebih rendah. Namun, penting untuk dicermati bahwa RON95 Malaysia memiliki tingkat oktan yang setara dengan Pertamax di Indonesia, bukan Pertalite. Oleh karena itu, perbandingan yang lebih relevan adalah antara Pertalite (RON90) Indonesia dengan RON95 Malaysia yang disubsidi, atau bahkan dengan Pertamax nonsubsidi Indonesia.

Aspek yang paling menonjol dari kebijakan Indonesia adalah keteguhan dalam tidak mengubah harga BBM subsidi, di saat yang sama Pertamina justru menaikkan harga BBM nonsubsidi secara signifikan. Sejak 10 Juni 2026, harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sementara itu, produk nonsubsidi lainnya seperti Pertamax Turbo (Rp20.750), Dexlite (Rp23.000), dan Pertamina Dex (Rp24.800) tetap stabil. Ini mengindikasikan strategi pemerintah Indonesia untuk menahan dampak langsung kenaikan harga global agar tidak membebani segmen masyarakat pengguna BBM bersubsidi, sambil tetap menyesuaikan harga pasar untuk konsumen non-subsidi.

Dari analisis komparatif ini, jelas terlihat bahwa kedua negara memiliki pendekatan strategis dalam mengelola subsidi BBM. Namun, Indonesia menunjukkan konsistensi yang luar biasa dalam mempertahankan harga BBM bersubsidi di level yang sama, menjadikannya salah satu yang paling kompetitif di kawasan, khususnya bagi masyarakat yang paling membutuhkan dukungan. Kebijakan ini tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi makro, tetapi juga menjadi pilar krusial dalam melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar