55tv.co.id – Mata uang Garuda kembali menghadapi ujian berat di pasar keuangan global. Nilai tukar Rupiah dilaporkan mengalami depresiasi tajam hingga menembus angka psikologis yang cukup mengkhawatirkan, yakni di level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas ekonomi domestik dalam jangka pendek.

Related Post
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Bloomberg pada pukul 09.40 WIB, Rupiah di pasar spot tercatat melemah sebesar 24 poin atau setara dengan 0,13 persen. Pelemahan ini membawa posisi mata uang nasional ke angka Rp18.002 per dolar AS. Angka ini menandai titik terendah baru yang menambah tekanan bagi para pelaku usaha, terutama mereka yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor.

Menanggapi situasi yang kian memanas, Bank Indonesia (BI) bergerak cepat untuk memetakan penyebab utama di balik anjloknya nilai tukar tersebut. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan bahwa fenomena ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan akibat akumulasi dari berbagai faktor eksternal dan domestik yang saling berkaitan.
Menurut Erwin, salah satu pemicu utama adalah meningkatnya kecemasan pasar terhadap inflasi global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi ini diperparah oleh ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan harga energi dunia. Harga minyak mentah dilaporkan meroket hingga melampaui angka USD108 per barel. Ketidakpastian ini muncul seiring dengan belum adanya kesepakatan terkait pembukaan jalur strategis di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi energi dunia.
Lonjakan harga minyak tersebut secara otomatis memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif. Dampaknya, imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun melonjak drastis ke posisi 5,23 persen. Level ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2007, yang kemudian memicu gelombang arus modal keluar (outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju pasar Amerika Serikat yang dianggap lebih aman.
Selain faktor global, tekanan terhadap Rupiah juga datang dari dalam negeri. Erwin menjelaskan bahwa terdapat pengetatan likuiditas valuta asing (valas) yang dipicu oleh tingginya aktivitas korporasi importir. Menjelang berakhirnya triwulan ketiga, banyak perusahaan yang melakukan aksi korporasi besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan valas mereka, sehingga permintaan dolar AS di pasar domestik meningkat tajam.
Kombinasi antara tekanan eksternal dari kenaikan yield obligasi AS dan tekanan internal dari kebutuhan impor ini membuat posisi Rupiah semakin terhimpit. Bank Indonesia kini tengah menyiapkan berbagai langkah intervensi melalui tiga jalur strategis guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan pasar tetap berjalan secara teratur di tengah volatilitas yang tinggi.










Tinggalkan komentar