Strategi Baru RI Ubah Batu Bara Jadi BBM

Strategi Baru RI Ubah Batu Bara Jadi BBM

55tv.co.id – Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui inovasi teknologi hilirisasi. Salah satu rencana besar yang tengah digodok adalah mengubah batu bara kalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan negara terhadap impor energi dari luar negeri yang selama ini membebani devisa negara.

COLLABMEDIANET

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini sedang mematangkan persiapan fasilitas produksi untuk mendukung ambisi tersebut. Fokus utama pengembangan akan diarahkan pada wilayah-wilayah yang memiliki cadangan batu bara melimpah, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera Selatan.

Strategi Baru RI Ubah Batu Bara Jadi BBM
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Kami sedang mendorong kegiatan ini, terutama di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan, atau daerah-daerah lain yang memiliki potensi cadangan batu bara yang sangat besar," ujar Yuliot saat memberikan keterangan di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Pemilihan lokasi di Kalimantan dan Sumatera Selatan bukan tanpa alasan. Kedua wilayah tersebut dikenal sebagai lumbung batu bara nasional, di mana jenis batu bara kalori rendah sangat mudah ditemukan. Selama ini, batu bara jenis tersebut seringkali memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah dibandingkan batu bara kalori tinggi, namun melalui teknologi gasifikasi, nilai tambahnya akan meningkat drastis.

Salah satu proyek percontohan yang sudah berjalan adalah Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol. Proyek ini berlokasi di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Yuliot bahkan menyebutkan bahwa dirinya telah melakukan proses groundbreaking untuk proyek ambisius tersebut.

Target produksi dari proyek di Kutai Timur ini diproyeksikan mencapai angka 2 juta ton metanol per tahun. Jika target ini tercapai, dampak ekonominya akan sangat signifikan. Pemerintah memperkirakan adanya potensi penghematan devisa negara hingga Rp7,1 triliun setiap tahunnya. Angka ini didapat dari pengurangan volume impor BBM yang selama ini harus dibayar menggunakan mata uang asing.

Lebih lanjut, Yuliot menjelaskan bahwa produk turunan dari batu bara ini, yakni metanol, akan memiliki peran krusial dalam berbagai sektor industri. Metanol hasil produksi tersebut tidak hanya akan digunakan untuk kebutuhan industri petrokimia dan produksi formaldehida, tetapi juga akan menjadi komponen penting dalam sektor energi.

"Metanol ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan campuran untuk bahan bakar minyak," jelasnya. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendukung pengembangan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) serta memperkuat program biodiesel B50 yang sedang dicanangkan. Dengan adanya integrasi antara hilirisasi batu bara dan pengembangan bahan bakar nabati, Indonesia optimis dapat menciptakan ekosistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan di masa depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar